Thursday, November 13, 2014

Bagaimana Seandainya..



Aku hanya diam membisu memandangi layar komputerku,
sedianya malam itu aku akan meng-edit slide presentasi power point-ku,
tapi nyatanya yg kulakukan hanya scroll up - scroll down.
Seolah aku sedang membaca slide itu, padahal tidak. 
Mataku tertuju pada screen, sedang hati dan pikiranku mengembara tak tau kemana.
Entah apa yang sedang aku pikirkan, serasa semua menjadi satu dan tak dapat kuuraikan.
Aku ingin menangis tapi serasa air mataku telah kering.


"Wes to... ora usah mikir sesuatu sing durung pasti.

Bayangne yen skripsi-mu ora dadi, trus ra iso melu sidang, Kowe piye..?"
Kata-kata sahabatku itu kembali berputar-putar dikepalaku.

Benar.. untuk saat ini skipsi-ku adalah segalanya bagiku,

demi menyelesaikannya aku rela tidak tidur terkadang hingga semalam utuh.
Tetapi untuk waktu yang akan datang, aku tidak membutuhkannya lagi.
Selembar ijasah akan menjadi kenangan ketika kelak aku diharuskan mengurus keluarga, suami dan anak-anakku.
Dan lagi-lagi bukan kecemasan tentang itu yg ada dalam benakku saat ini.
Lalu...??
Entahlah.. setelah aku membaca salah satu tulisan di sebuah blog, hati dan pikiranku kacau dibuatnya.
Tidak tau mengapa, tiba-tiba ada perasaan yang menyebak didada.

Aku adalah seorang perempuan yg sensitif,

 aku amat perasa walaupun aku selalu berusaha menyembunyikan perasaanku dibalik senyum, namun aku tak dapat membohongi hati kecilku.
Sebuah tanya dalam hati, yang amat perih dan pedih. 
Aku tak dapat membayangkan jika suatu saat hal itu benar-benar terjadi padaku. 
Bagaimana dan betapa hancurnya hatiku..??

Tuhan... 

Kurniakanlah kepadaku keluasan samudra kesabaran dan keikhlasan untuk menghadapi semua ujian dan cobaan yang Engkau berikan padaku.
Jika hanya Sabar dan Ikhlas yang menjadi kunci menuju Surga-Mu, 
maka jadikanlah sabar dan ikhlas itu menjadi pakaianku.
Jadikanlah aku seorang muslimah yang selalu ridha terhadap apa apa yang Engkau ridha-i.
Jika hanya ketaatan pada Suami adalah jalan menuju jalan yang Engkau ridhai, maka jadikanlah taat kepada Suami adalah selimutku di dunia ini.

Tuhan...
Engkau Maha Segalanya..

Milik-Mu segala yang ada di langit dan di bumi dan yang berada diantaranya.
Karuniakanlah kepadaku seorang imam yang senantiasa menautkan hatinya kepada-Mu.
Seorang imam yang takut kepada-Mu, yang dapat membimbing aku dan anak-anakku untuk lebih dekat kepada-Mu.
Yang mampu menjadikan aku seorang wanita yang lebih Shalihah dari yang sekarang.

Tuhan...

Jadikanlah rasa cemburuku yang Engkau hadirkan ini adalah cara-Mu agar aku semakin dekat kepada-Mu,
karena aku sadar aku tidak berhak merasa cemburu kepada yang bukan milikku.
Jangan pernah biarkan besarnya rasa cintaku terhadap makhluk-Mu melebihi besarnya cintaku pada-Mu.
Dan jangan biarkan rasa rindu ini menjadi jalan menuju sesuatu yang Engkau murka-i.

Tuhan..
Jika saatnya nanti Engkau mempertemukan aku dengan seseorang yang akan menjadi imamku,

titipkanlah kepadanya keluasan samudra kesabaran dalam membimbing keluarga kecilku,
karuniakanlah kepadanya kelembutan hati serta kasih sayang terhadap istri dan anak-anaknya.
Aamiin..


Saturday, September 27, 2014

Apakabarmu disana..?

Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh..

Kekasihku....

Apakabarmu..?
Apakabar dengan imanmu..?
Masihkah engkau menghafal surat cinta-Nya..?
Apakabar dengan hatimu..?
Masihkah engkau menautkan hatimu hanya kepada-Nya..?
Apakabar dengan kesehatanmu..?
Masihkah engkau menjaga jantungmu..?

Sayangku..

Ada banyak kata yang ingin kusampaikan padamu,
tetapi aku tak tau harus bagaimana mengatakannya.

Sayang..

Maafkan aku ketika aku mulai cerewet, banyak mengatur tentangmu.. 
Aku tidak sedang belajar menjadi Ibu-mu.
Maafkan aku ketika aku selalu mengingatkanmu tentang hal yang sama berulang-ulang..
Aku tidak sedang belajar menjadi alarm bagimu.
Aku tau engkau akan bosan dengan semua itu.
Tetapi Sayang..
Aku tidak akan pernah bosan melakukan itu padamu, 
mungkin suatu saat nanti aku akan lebih cerewet dari sekarang - 
ketika aku menjadi Ibu dari anak-anakmu.
Alasannya sederhana, 
Karena apa yang dilakukan orang tuanya - itulah yang akan mereka lakukan pula. 

Besar harapanku..

Semoga kita mampu mendidik anak-anak kita hingga mereka menjadi anak-anak yang berbakti pada orang tuanya,
mampu memberi manfaat pada sesamanya..
Semoga mereka menjadi anak-anak yang sholih/sholihah yang bisa mengangkat derajat orang tuanya dengan ilmu agama.. Aamiin..
Tetapi Sayangku.. 
Disini aku mulai ragu, apakah kita mampu mendidik mereka dengan ilmu agama yang kita miliki..?
Sedangkan kemampuan ilmu agamaku masih sangat kurang. 
Aku mulai lega ketika engkau mengatakan ingin menyekolahkan mereka di sekolahan yang ber-basic tentang ilmu agama, 
tetapi sayang.. 
lagi-lagi aku mulai ragu,, bukankah orang pertama yang mereka lihat saat mereka pertama kali membuka mata di dunia ini adalah orangtuanya..? 


Sunday, September 21, 2014

Untukmu Wahai Calon Kekasih Dunia Akhirat-Ku...


Karena...

bagiku Cinta tidak harus ia yg selalu setia disisi setiap Waktu.






Bagiku..
Cinta bukanlah tentang  ketertarikan sesaat, tetapi ia-nya adalah Komitmen yg memerlukan rasa saling percaya antara dua hati yg saling mencintai. 
Seandainya CINTA adalah ia yg selalu hadir dalam kebersamaan, mungkin aku takkan pernah punya Cinta.

Seperti Matahari dan Bulan yg tak pernah nampak hadir bersama, tetapi mereka tetap memiliki satu tujuan yg sama “menerangi” dunia. 

Se-sederhana itulah aku ingin mencintai-Mu.

Diantara sekian jiwa yg pernah hadir tawarkan cinta, hatiku telah memilihmu.. 

 Dan diantara sekian banyak pilihan jalan untuk melangkah, kumemilih Sakinah bersamamu..
Engkau tau aku tak sempurna, maka dengan kelebihanmu bimbinglah aku.. 

Engkau juga sadar engkau mempunyai kekurangan, semoga hadirku mampu menyempurnakan hidupmu dan juga Agama-mu.  

Jika kita pernah hidup bersama di dunia ini, kelak aku ingin kita dapat bersama di Surga-Nya.. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu menjadi bidadari di dunia dan akhirat-mu. 

Semoga engkau ridho padaku.

Kita tau bahwa jalan yg akan kita tempuh tidak selalu mudah, maka genggam erat tanganku ketika langkahku mulai goyah. Tuntun aku kembali ke jalan-Nya saat aku mulai tergoda oleh dunia.
Aku hanya ingin menjadi cinta terakhir dalam hatimu. 

Rabb-Mu.. 
 Ibu-Mu.. 
dan Aku.. 
Jika ada cinta yg lain, mereka adalah anak2ku dan saudara kita. 
Cintailah aku karena cintamu kepada Rabb-mu, sehingga menambah kecintaanku pada Sang Penciptaku. 
Cintailah aku hanya dengan seujung hatimu, sehingga cinta itu akan terus tumbuh.

Aku tidak bisa janji untuk menjadi seorang Istri yang sempurna, tetapi aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Bantu aku untuk menjadi Istri yg kau sayangi.. 
Bimbinglah aku agar aku dapat menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakmu..


Mungkin aku bukan yang terbaik, tetapi aku janji aku akan selalu ada untukmu, menjaga dan mendidik anak-anakmu hingga mereka dapat berbakti kepadamu..


Sayangku... 
Sejuta kata-kata takkan pernah cukup untuk mengungkapkan perasaan ini,,  Seribu mawar belum mampu untuk mewakili kebahagiaanku. 
Aku tak bisa memberikan alasan mengapa aku mencintaimu,, yang aku tau hanyalah.. 
Karena itu Aku.. Karena itu Dirimu,, bukan yang lain.. 
Semoga kita dapat selalu bersama dalam menggapai ridha dan cinta-Nya.. hingga kelak kita sampai pada Surga-Nya...  
Aamiin..




Sayangku... 
Jika aku menuliskan surat cintaku ini  diatas kertas, mungkin engkau akan membuangnya setelah kau membacanya.. 
Lalu kenapa aku harus menuliskannya disini..?? 
Sederhana..  
Aku ingin kelak engkau akan membuka kembali tulisan ini, membacanya kembali dan menceritakannya pada anak-anakku bahwa "dulu" aku pernah jatuh cinta padamu..  
Atau mungkin mereka yang akan membacakan kembali untukmu bahwa engkaulah cinta terindah dalam hidupku..


Dariku, Kekasih Hatimu.. :)